Riba Yang Sering Jadi Sumber Masalah

0
293

Buat banyak orang, riba atau bunga utang itu hal yang dianggap normal. Pinjam uang, lalu kembalikan lebih banyak—terdengar sederhana. Bahkan sering dianggap sebagai “biaya jasa”. Tapi kalau kita lihat cara kerjanya, riba sebenarnya menyimpan banyak masalah yang jarang disadari.

Masalahnya bukan cuma soal halal atau haram, tapi juga soal cara sistem ini bekerja dalam kehidupan nyata.

1. Untung Pasti, Risiko Ditanggung Sendiri

Dalam sistem riba, pemberi pinjaman dapat keuntungan yang sudah pasti, berapa pun kondisi si peminjam. Mau usahanya untung, rugi, atau bahkan bangkrut, cicilan plus bunga tetap harus dibayar.

Artinya, risiko hanya ada di satu pihak. Padahal dalam logika yang sehat, kalau ada keuntungan, seharusnya risiko juga dibagi. Kalau tidak, hubungan yang terjadi bukan kerja sama, tapi tekanan sepihak.

2. Uang Bertambah, Tapi Nilai Nyata Tidak

Riba membuat uang seolah bisa “beranak” hanya karena waktu. Tanpa perlu produksi, tanpa inovasi, tanpa aktivitas nyata. Ini yang bikin sektor keuangan sering tumbuh cepat, sementara sektor usaha riil justru tertinggal.

Kalau dibiarkan, kondisi ini bisa memicu krisis. Sejarah sudah berkali-kali membuktikan, ketika uang lebih sibuk menghasilkan uang, bukan mendukung usaha nyata, ekonomi jadi rapuh.

3. Utang yang Makin Lama Makin Berat

Banyak orang terjebak bukan karena utangnya besar di awal, tapi karena bunganya terus berjalan. Cicilan terasa ringan di awal, tapi lama-lama makin menekan. Ini yang disebut jebakan utang.

Tekanan utang bukan cuma bikin pusing keuangan, tapi juga berdampak ke kesehatan mental, hubungan keluarga, bahkan produktivitas kerja. Masalah finansial sering berubah jadi masalah hidup.

4. Yang Punya Modal Makin Kuat, Yang Usaha Makin Tertekan

Dalam sistem berbasis riba, pemilik modal cenderung makin aman dan untung. Sementara pelaku usaha kecil atau individu yang butuh modal justru menanggung beban lebih besar.

Akhirnya, kesenjangan makin lebar. Uang berputar di kelompok yang itu-itu saja, sementara yang bekerja keras justru berjuang menutup bunga.

5. Kenapa Banyak Sistem Alternatif Muncul?

Karena masalah-masalah itulah, banyak negara dan komunitas mulai melirik sistem alternatif, salah satunya sistem bagi hasil. Di sini, keuntungan dibagi, risiko juga dibagi. Kalau usaha untung, dua-duanya senang. Kalau rugi, ditanggung bersama.

Uang kembali ke fungsinya: alat untuk mendorong usaha dan produktivitas, bukan alat untuk menekan.

Jadi, riba bukan sekadar istilah agama atau teori lama. Ia adalah sistem yang secara logika dan pengalaman nyata sering menciptakan ketidakseimbangan—antara untung dan risiko, antara uang dan kerja, antara modal dan manusia.

Mungkin itulah sebabnya, sejak dulu hingga sekarang, riba terus dikritik. Bukan karena benci pada keuntungan, tapi karena ingin ekonomi yang lebih adil, sehat, dan manusiawi.

Search
Categories
Read More
Bisnis & UMKM
Cara Dapat Modal Usaha Ala Syariah: Untung Bareng, Risiko Ditanggung Bersama
Buat pelaku usaha, modal sering jadi tantangan utama. Mau mengembangkan usaha, tapi takut...
By Bisnis Dan UMKM 2025-12-22 05:52:51 0 308
Asuransi Syariah
Lihat, Begini Cara Kerja Asuransi Syariah
Risiko adalah bagian dari hidup. Sakit, kecelakaan, atau musibah bisa datang tanpa diduga. Untuk...
By Asuransi Syariah 2025-12-21 06:23:49 0 245
Perbankan Syariah
Simulasi KPR Syariah Buat Rumah Pertama: Biar Nggak Kaget di Tengah Jalan
Punya rumah pertama itu mimpi banyak orang. Tapi begitu masuk ke urusan cicilan, sering muncul...
By Perbankan Syariah 2025-12-22 05:01:20 0 421
Investasi & Pasar Modal
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan JII: Apa Bedanya?
Dalam dunia investasi saham syariah di Indonesia, dua istilah yang paling sering muncul adalah...
By Investasi Saham 2025-12-31 09:55:40 0 443
Halal Food
Restoran Berlomba-Lomba Kasih Diskon: Halal Nggak Sih?
Diskon makanan di restoran kini menjadi strategi pemasaran yang sangat umum. Mulai dari potongan...
By Halal Food 2025-12-31 09:40:36 0 378
HABYTE https://habyte.id