Riba Yang Sering Jadi Sumber Masalah

0
276

Buat banyak orang, riba atau bunga utang itu hal yang dianggap normal. Pinjam uang, lalu kembalikan lebih banyak—terdengar sederhana. Bahkan sering dianggap sebagai “biaya jasa”. Tapi kalau kita lihat cara kerjanya, riba sebenarnya menyimpan banyak masalah yang jarang disadari.

Masalahnya bukan cuma soal halal atau haram, tapi juga soal cara sistem ini bekerja dalam kehidupan nyata.

1. Untung Pasti, Risiko Ditanggung Sendiri

Dalam sistem riba, pemberi pinjaman dapat keuntungan yang sudah pasti, berapa pun kondisi si peminjam. Mau usahanya untung, rugi, atau bahkan bangkrut, cicilan plus bunga tetap harus dibayar.

Artinya, risiko hanya ada di satu pihak. Padahal dalam logika yang sehat, kalau ada keuntungan, seharusnya risiko juga dibagi. Kalau tidak, hubungan yang terjadi bukan kerja sama, tapi tekanan sepihak.

2. Uang Bertambah, Tapi Nilai Nyata Tidak

Riba membuat uang seolah bisa “beranak” hanya karena waktu. Tanpa perlu produksi, tanpa inovasi, tanpa aktivitas nyata. Ini yang bikin sektor keuangan sering tumbuh cepat, sementara sektor usaha riil justru tertinggal.

Kalau dibiarkan, kondisi ini bisa memicu krisis. Sejarah sudah berkali-kali membuktikan, ketika uang lebih sibuk menghasilkan uang, bukan mendukung usaha nyata, ekonomi jadi rapuh.

3. Utang yang Makin Lama Makin Berat

Banyak orang terjebak bukan karena utangnya besar di awal, tapi karena bunganya terus berjalan. Cicilan terasa ringan di awal, tapi lama-lama makin menekan. Ini yang disebut jebakan utang.

Tekanan utang bukan cuma bikin pusing keuangan, tapi juga berdampak ke kesehatan mental, hubungan keluarga, bahkan produktivitas kerja. Masalah finansial sering berubah jadi masalah hidup.

4. Yang Punya Modal Makin Kuat, Yang Usaha Makin Tertekan

Dalam sistem berbasis riba, pemilik modal cenderung makin aman dan untung. Sementara pelaku usaha kecil atau individu yang butuh modal justru menanggung beban lebih besar.

Akhirnya, kesenjangan makin lebar. Uang berputar di kelompok yang itu-itu saja, sementara yang bekerja keras justru berjuang menutup bunga.

5. Kenapa Banyak Sistem Alternatif Muncul?

Karena masalah-masalah itulah, banyak negara dan komunitas mulai melirik sistem alternatif, salah satunya sistem bagi hasil. Di sini, keuntungan dibagi, risiko juga dibagi. Kalau usaha untung, dua-duanya senang. Kalau rugi, ditanggung bersama.

Uang kembali ke fungsinya: alat untuk mendorong usaha dan produktivitas, bukan alat untuk menekan.

Jadi, riba bukan sekadar istilah agama atau teori lama. Ia adalah sistem yang secara logika dan pengalaman nyata sering menciptakan ketidakseimbangan—antara untung dan risiko, antara uang dan kerja, antara modal dan manusia.

Mungkin itulah sebabnya, sejak dulu hingga sekarang, riba terus dikritik. Bukan karena benci pada keuntungan, tapi karena ingin ekonomi yang lebih adil, sehat, dan manusiawi.

Pesquisar
Categorias
Leia Mais
Halal Food
Perbedaan Halal, Haram, dan Syubhat dalam Produk Makanan
Dalam kehidupan sehari-hari, makanan bukan hanya soal rasa dan kenyang, tetapi juga soal...
Por Halal Food 2026-02-11 06:51:19 0 392
Investasi & Pasar Modal
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan JII: Apa Bedanya?
Dalam dunia investasi saham syariah di Indonesia, dua istilah yang paling sering muncul adalah...
Por Investasi Saham 2025-12-31 09:55:40 0 384
Bisnis & UMKM
Buat UMKM: Mendapatkan Label Halal kini Makin Mudah
Kesadaran masyarakat terhadap produk halal terus meningkat. Label halal kini tidak hanya...
Por Bisnis Dan UMKM 2025-12-24 08:57:00 0 345
Perbankan Syariah
Tabungan Syariah: Cara Kerjanya
Menabung itu penting. Tapi buat sebagian orang, bukan cuma soal aman dan praktis, melainkan juga...
Por Perbankan Syariah 2025-12-20 12:12:29 0 127
Bisnis & UMKM
Mengelola Arus Kas UMKM Sesuai Prinsip Syariah
Bagi pelaku UMKM, arus kas sering kali menjadi urusan paling krusial. Usaha bisa terlihat ramai,...
Por Bisnis Dan UMKM 2025-12-25 15:42:56 0 344
HABYTE https://habyte.id