Riba Yang Sering Jadi Sumber Masalah

0
282

Buat banyak orang, riba atau bunga utang itu hal yang dianggap normal. Pinjam uang, lalu kembalikan lebih banyak—terdengar sederhana. Bahkan sering dianggap sebagai “biaya jasa”. Tapi kalau kita lihat cara kerjanya, riba sebenarnya menyimpan banyak masalah yang jarang disadari.

Masalahnya bukan cuma soal halal atau haram, tapi juga soal cara sistem ini bekerja dalam kehidupan nyata.

1. Untung Pasti, Risiko Ditanggung Sendiri

Dalam sistem riba, pemberi pinjaman dapat keuntungan yang sudah pasti, berapa pun kondisi si peminjam. Mau usahanya untung, rugi, atau bahkan bangkrut, cicilan plus bunga tetap harus dibayar.

Artinya, risiko hanya ada di satu pihak. Padahal dalam logika yang sehat, kalau ada keuntungan, seharusnya risiko juga dibagi. Kalau tidak, hubungan yang terjadi bukan kerja sama, tapi tekanan sepihak.

2. Uang Bertambah, Tapi Nilai Nyata Tidak

Riba membuat uang seolah bisa “beranak” hanya karena waktu. Tanpa perlu produksi, tanpa inovasi, tanpa aktivitas nyata. Ini yang bikin sektor keuangan sering tumbuh cepat, sementara sektor usaha riil justru tertinggal.

Kalau dibiarkan, kondisi ini bisa memicu krisis. Sejarah sudah berkali-kali membuktikan, ketika uang lebih sibuk menghasilkan uang, bukan mendukung usaha nyata, ekonomi jadi rapuh.

3. Utang yang Makin Lama Makin Berat

Banyak orang terjebak bukan karena utangnya besar di awal, tapi karena bunganya terus berjalan. Cicilan terasa ringan di awal, tapi lama-lama makin menekan. Ini yang disebut jebakan utang.

Tekanan utang bukan cuma bikin pusing keuangan, tapi juga berdampak ke kesehatan mental, hubungan keluarga, bahkan produktivitas kerja. Masalah finansial sering berubah jadi masalah hidup.

4. Yang Punya Modal Makin Kuat, Yang Usaha Makin Tertekan

Dalam sistem berbasis riba, pemilik modal cenderung makin aman dan untung. Sementara pelaku usaha kecil atau individu yang butuh modal justru menanggung beban lebih besar.

Akhirnya, kesenjangan makin lebar. Uang berputar di kelompok yang itu-itu saja, sementara yang bekerja keras justru berjuang menutup bunga.

5. Kenapa Banyak Sistem Alternatif Muncul?

Karena masalah-masalah itulah, banyak negara dan komunitas mulai melirik sistem alternatif, salah satunya sistem bagi hasil. Di sini, keuntungan dibagi, risiko juga dibagi. Kalau usaha untung, dua-duanya senang. Kalau rugi, ditanggung bersama.

Uang kembali ke fungsinya: alat untuk mendorong usaha dan produktivitas, bukan alat untuk menekan.

Jadi, riba bukan sekadar istilah agama atau teori lama. Ia adalah sistem yang secara logika dan pengalaman nyata sering menciptakan ketidakseimbangan—antara untung dan risiko, antara uang dan kerja, antara modal dan manusia.

Mungkin itulah sebabnya, sejak dulu hingga sekarang, riba terus dikritik. Bukan karena benci pada keuntungan, tapi karena ingin ekonomi yang lebih adil, sehat, dan manusiawi.

Search
Categories
Read More
Perbankan Syariah
BSN Perkuat Peran Developer, Pembiayaan Rumah Syariah Makin Ngebut
Bank Syariah Nasional (BSN) makin serius menggarap sektor perumahan. Kali ini, fokusnya adalah...
By Perbankan Syariah 2026-02-09 01:01:57 0 355
Keuangan Syariah
Utang dalam Islam: Kapan Boleh, Kapan Harus Dihindari?
Dalam kehidupan modern, utang sering dianggap sebagai solusi cepat untuk memenuhi kebutuhan....
By Keuangan Pribadi 2025-12-23 15:42:10 0 314
Komoditi & Emas
Investasi Emas Syariah: Apa yang Membuatnya Halal?
Emas sudah sejak lama dianggap sebagai simbol kekayaan yang aman. Dari zaman kerajaan sampai era...
By Investasi Saham 2026-02-06 10:44:54 0 418
Keuangan Syariah
Amanah yang Dijual: Pelajaran dari Kasus Dana Syariah Indonesia
Dalam beberapa tahun terakhir, produk keuangan berlabel syariah semakin mudah ditemukan. Mulai...
By Keuangan Syariah 2025-12-25 12:52:03 0 395
Keuangan Syariah
Riba Yang Sering Jadi Sumber Masalah
Buat banyak orang, riba atau bunga utang itu hal yang dianggap normal. Pinjam uang, lalu...
By Keuangan Syariah 2025-12-18 11:24:06 0 282
HABYTE https://habyte.id