Riba Yang Sering Jadi Sumber Masalah

0
103

Buat banyak orang, riba atau bunga utang itu hal yang dianggap normal. Pinjam uang, lalu kembalikan lebih banyak—terdengar sederhana. Bahkan sering dianggap sebagai “biaya jasa”. Tapi kalau kita lihat cara kerjanya, riba sebenarnya menyimpan banyak masalah yang jarang disadari.

Masalahnya bukan cuma soal halal atau haram, tapi juga soal cara sistem ini bekerja dalam kehidupan nyata.

1. Untung Pasti, Risiko Ditanggung Sendiri

Dalam sistem riba, pemberi pinjaman dapat keuntungan yang sudah pasti, berapa pun kondisi si peminjam. Mau usahanya untung, rugi, atau bahkan bangkrut, cicilan plus bunga tetap harus dibayar.

Artinya, risiko hanya ada di satu pihak. Padahal dalam logika yang sehat, kalau ada keuntungan, seharusnya risiko juga dibagi. Kalau tidak, hubungan yang terjadi bukan kerja sama, tapi tekanan sepihak.

2. Uang Bertambah, Tapi Nilai Nyata Tidak

Riba membuat uang seolah bisa “beranak” hanya karena waktu. Tanpa perlu produksi, tanpa inovasi, tanpa aktivitas nyata. Ini yang bikin sektor keuangan sering tumbuh cepat, sementara sektor usaha riil justru tertinggal.

Kalau dibiarkan, kondisi ini bisa memicu krisis. Sejarah sudah berkali-kali membuktikan, ketika uang lebih sibuk menghasilkan uang, bukan mendukung usaha nyata, ekonomi jadi rapuh.

3. Utang yang Makin Lama Makin Berat

Banyak orang terjebak bukan karena utangnya besar di awal, tapi karena bunganya terus berjalan. Cicilan terasa ringan di awal, tapi lama-lama makin menekan. Ini yang disebut jebakan utang.

Tekanan utang bukan cuma bikin pusing keuangan, tapi juga berdampak ke kesehatan mental, hubungan keluarga, bahkan produktivitas kerja. Masalah finansial sering berubah jadi masalah hidup.

4. Yang Punya Modal Makin Kuat, Yang Usaha Makin Tertekan

Dalam sistem berbasis riba, pemilik modal cenderung makin aman dan untung. Sementara pelaku usaha kecil atau individu yang butuh modal justru menanggung beban lebih besar.

Akhirnya, kesenjangan makin lebar. Uang berputar di kelompok yang itu-itu saja, sementara yang bekerja keras justru berjuang menutup bunga.

5. Kenapa Banyak Sistem Alternatif Muncul?

Karena masalah-masalah itulah, banyak negara dan komunitas mulai melirik sistem alternatif, salah satunya sistem bagi hasil. Di sini, keuntungan dibagi, risiko juga dibagi. Kalau usaha untung, dua-duanya senang. Kalau rugi, ditanggung bersama.

Uang kembali ke fungsinya: alat untuk mendorong usaha dan produktivitas, bukan alat untuk menekan.

Jadi, riba bukan sekadar istilah agama atau teori lama. Ia adalah sistem yang secara logika dan pengalaman nyata sering menciptakan ketidakseimbangan—antara untung dan risiko, antara uang dan kerja, antara modal dan manusia.

Mungkin itulah sebabnya, sejak dulu hingga sekarang, riba terus dikritik. Bukan karena benci pada keuntungan, tapi karena ingin ekonomi yang lebih adil, sehat, dan manusiawi.

Site içinde arama yapın
Kategoriler
Read More
Investasi & Pasar Modal
Reksa Dana Syariah: Cocok untuk Pemula?
Buat banyak orang, mulai investasi itu rasanya ribet. Takut salah pilih, takut rugi, dan bingung...
By Investasi Saham 2025-12-22 05:19:41 0 105
Bisnis & UMKM
Mengelola Arus Kas UMKM Sesuai Prinsip Syariah
Bagi pelaku UMKM, arus kas sering kali menjadi urusan paling krusial. Usaha bisa terlihat ramai,...
By Bisnis Dan UMKM 2025-12-25 15:42:56 0 149
Investasi & Pasar Modal
Hati-Hati dalam Berinvestasi: Kasus Dana Syariah Indonesia
Investasi sering dipandang sebagai jalan untuk mengembangkan aset dan mencapai tujuan finansial....
By Keuangan Syariah 2025-12-22 04:27:48 0 122
Keuangan Syariah
Gaji Pertama: Harus Ngapain Biar Berkah?
Momen menerima gaji pertama sering jadi pengalaman yang tidak terlupakan. Ada rasa bangga, lega,...
By Keuangan Pribadi 2025-12-21 11:20:04 0 97
Perbankan Syariah
Edan, Kini Membuka Tabungan Syariah Hanya dalam Hitungan Menit
Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar di industri perbankan Indonesia. Jika dulu...
By Perbankan Syariah 2025-12-21 06:06:09 0 67
HABYTE https://habyte.id